Berharap Kecil Berhasil, Hindari Kekeliruan dalam Pengajaran

St Monica School Jakarta – Tidak diragukan lagi, segala ayah dan bunda pasti berupaya memberikan yang terbaik untuk si kecilnya. Lebih-lebih untuk pengajaran, yang menjadi dasar kesuksesan buah hati di masa depan. Tetapi, menyiapkan dana pengajaran dan memberikan sekolah terbaik saja tidak cukup. Tanpa disadari, tak segala jerih payah ayah dan bunda untuk memberikan pengajaran terbaik berimbas bagus pula untuk buah hati.

Berikut empat kekeliruan yang kerap kali dikerjakan ayah dan bunda berhubungan dengan pengajaran buah hati.

1. Konsentrasi pada ‘nama besar’ sekolah

Kita tak jarang mendengar ayah dan bunda dan buah hati-buah hati yang ngotot berharap pergi ke sekolah tertentu, sebab katanya sekolah hal yang demikian yakni yang terbaik. Kita malahan tahu jika sekolah atau universitas yang dimaksud memang baik dan punya ‘nama besar’.

Memang sih, banyak orang berpendapat sekolah terbaik akan memberikan kans yang lebih besar bagi buah hati untuk mendapatkan profesi bergengsi, gaji yang besar atau kesuksesan. Ada kebenaran di dalamnya, tetapi bukan itu yang seharusnya menjadi konsentrasi. Bukan berarti banyak alumnus yang berhasil, karenanya itu menjadi sekolah yang ideal untuk buah hati Anda.

Sekolah terbaik yakni sekolah yang paling pantas untuk buah hati. Di sana, buah hati akan merasa bergembira dan bermotivasi untuk belajar. Jadi, ketimbang konsentrasi pada nama besar sekolah, lebih bagus cari sekolah yang paling pantas dengan ketertarikan dan gaya belajar buah hati.

Pastikan di sekolah hal yang demikian, elemen akademis, olahraga, seni dan ekstrakulikuler dapat menyokong keperluan buah hati. Sekolah yang punya program terbaik untuk buah hati Anda, itu lah sekolah terbaik. Sebab buah hati akan menerima kans terbaik untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal.

2. Utamakan skor akademis

Masih banyak ayah dan bunda yang berpendapat skor baik yakni hal terutama di sekolah. Mereka percaya, skor baik yang jadi penentu keberhasilan buah hati. Karenanya tidak heran, banyak ayah dan bunda menuntut si kecilnya untuk mendapatkan skor setinggi mungkin. Sedangkan, banyak orang berhasil di bidang bisnis dan politik yang cuma mempunyai skor B+ semasa sekolah.

Kunci berhasil mereka bukanlah skor, tetapi kesanggupan interpersonal. Di dunia yang kompetitif dan dinamis, mereka yang berhasil yakni yang dapat membangun kekerabatan bagus, dan mengoptimalkan jaringan personal dan profesional. Dengan kata lain, EQ (Emotional Quotient) sama pentingnya dengan IQ (Intelligence Quotient).